Satu Cerita

Lebak Bulus – Leuwipanjang

Posted in thoughts by Ichsan on August 18, 2011

Mati. Kematian. Apa yang terbersit ketika mendengar kata tersebut? Ngeri? Sesak? Takut? Atau malah damai dan tentram? Setiap orang mungkin akan mempunyai perasaan yang berbeda.

Pernahkah merasa dekat dengan kematian? Saya pernah, mungkin. Ada dua kejadian yang seingat saya pernah membuat saya merasa begitu dekat dengan kematian.  Yang pertama ialah di suatu malam saat saya hendak tidur. Saat itu, bernafas yang seharusnya sudah menjadi refleks, mendadak tidak lagi. Semakin saya menuju fase tidur, saya pun berhenti mengambil nafas. Sampai akhirnya terbangun tiba-tiba karena sesak. Saya langsung berfikir apa jadinya kalau saat tidur nanti nafas saya benar-benar berhenti dan saya mati tercekik karena tidak bernafas.

Yang kedua, ialah ketika menaiki bis Jakarta-Bandung yang melaju dengan kecepatan (yang saya yakin) diatas 120 km/jam di malam hari. Di kepala saya saat itu langsung terbayang tajuk surat kabar besok pagi: Bis Jurusan Jakarta-Bandung Menabrak Pembatas Cipularang Saat Melaju Kencang. OK, oleh orang Sunda saya pasti dibilang sompral.

Tapi apa salahnya juga memikirkan kematian. Toh, setiap orang pasti bakal menemui hal satu ini. Dan sebagai seorang muslim bahkan saya terus diingatkan tentang kematian, supaya tidak terlena dengan kehidupan di dunia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.

Nah, sekarang, beberapa pertanyaan yang mungkin sudah bosan Anda dengar. Siapkah Anda untuk bertemu kematian? Percayakah Anda dengan kehidupan setelah kematian? Jika ya,  bekal apa yang sudah disiapkan?

 

(Ditulis di atas kertas buram di dalam bis yang melaju kencang dari Lebak Bulus menuju Leuwipanjang di malam hari. Disertai tatapan heran kakek penumpang di kursi sebelah)

Memilah

Posted in daily, thoughts by Ichsan on July 27, 2011

Akhirnya, setelah merenungkan berminggu-minggu dan melakukan shalat istikharah(iya iya, emang bohong banget), saya memutuskan untuk membuat satu blog lagi. Alasannya sederhana. Saya nggak nyaman dengan isi dan tema blog ini yang acak kadut macam kadut diacak-acak.

Ya bisa dilihat sendirilah. Semuanya bercampur; gambar, tulisan curhat, tulisan penting(ada ya?), curhat, bahkan cerita fiksi nggak jelas yang saya bikin juga dimasukin ke sini. Sampai-sampai saya merasa perlu memberi tag ‘fiksi’ di tulisan saya yang dibawah. Karena malas dibilang curhat. Maklum, temanya memang sedikit galau.

Oleh karena itu, saya membuat satu blog lagi khusus untuk tulisan-tulisan fiksi galau tersebut. Dan rencananya satu blog tersebut akan jadi sarana saya belajar menulis cerita, dialog, atau lainnya. Untuk sekarang, setiap postingan diproteksi. Lah, terus ngapain bikin blog kalau gitu? Ada yang bertanya seperti itu kemarin. Ya karena memang niatan awalnya hanya mengarsipkan tulisan-tulisan saya yang sejenis, daripada tercecer di PC dan laptop lalu terlupakan. Jadi isi blog tersebut nantinya bakal jadi kelanjutan dari “Sisa di Dasar Botol”, yang saya masukkan juga disitu.

Nah, kesananya blog yang ini cukup jadi jurnal saya. Tentang saya yang bercerita berdasarkan mata, telinga, dan hati saya. Bukan cerita karangan belaka.

Sisa di Dasar Botol

Posted in botol sambal, fiksi, thoughts by Ichsan on July 6, 2011

(Cerita dibawah sebagian besar fiksi)

Kelaparan, kuputuskan untuk keluar mencari pengganjal perut di sekitar penginapan. “Lang, cari makan yuk keluar!”. Aku mengajak Gilang, teman satu kamarku.

“Males ah, baru juga beres tanding. Mending istirahat dulu, nanti malem aja baru kita beredar.”

“Depan doang sih, yang deket.”

“Males ah. Sendiri gih!”

Ah, ya sudahlah. Kuputuskan mencari makan sendiri. Keluar penginapan, tak jauh kulihat ada deretan tenda. Kuputuskan masuk ke tenda yang menjual mie bakso lalu memesan satu porsi.

Susah payah kuhentakkan botol sambal yang kupegang, berharap sambal yang ada di dasarnya mau berpindah ke mangkok berisi mie bakso di depanku. Ah, susah sekali. Kenapa para produsen sambal dan kecap ini tak pernah terfikir dengan endapan sambal atau kecap yang sulit dikeluarkan di dasar botol saat mau habis.

Padahal bayangkan saja, jika ada satu juta botol yang dijual setiap bulan, berapa liter sambal yang terbuang sia-sia! Padahal Tuhan bilang mubazir itu temannya setan. Dan aku tak mau berteman dengan setan, meski karena imanku yang lemah mereka jadi terlalu pintar dan sering berhasil memperdayaiku.

Akan berbeda seandainya para produsen sambal itu mau memikirkan setidaknya desain botol yang baru supaya tidak tersisa sambal yang menurutku cukup banyak tersebut. Aku menyerah, “Pak, boleh minta sambal lagi?”

Saat kembali ke penginapan, suasana nampak sepi. Sepertinya orang-orang pergi jalan-jalan tanpa mengajakku. Kurang ajar dasar.

Akhirnya sore itu kuputuskan untuk berjalan-jalan di Malioboro sendirian. Sore itu suasana cukup ramai. Namun itu entah kenapa justru membuatku merasa makin kesepian. Aku menyusuri jalan ke arah Selatan, sambil menutupi gundah yang tak berhenti merembes keluar. “Mas, mau dilukis Mas, buat kenangan-kenangan.” Panggil seorang Bapak yang lapaknya kulewati. Rupanya pelukis jalanan. Kunaikan tanganku untuk menolak. Namun tak sengaja mataku terhenti di salah satu gambar sketsa yang dipajang, yang nampak kukenal raut mukanya.

Kulihat foto kecil yg menempel di gambar tersebut. Oalah, ternyata itu gambar salah satu temanku saat pelatda bisbol beberapa tahun lalu, Anggi, bersama mantan pacarnya.Mereka pasti kesini bersama beberapa bulan lalu saat mereka masih pacaran. Ya ampun, dunia ini sempit. Aku tertawa sendiri sambil berujar dalam hati. Aku tinggalkan pelukis tersebut dan teruskan perjalanan tanpa arah ini.

Tapi kalau dunia ini sempit, tapi kenapa begitu sulit untuk bisa sekadar melihatmu kembali. Ah, terlalu banyak rahasia yang tidak dimengerti olehku yang bodoh ini. Kadang aku berharap Tuhan mau sedikit saja menambah volume otakku yang sering mampat ini.

Perjalananku terhenti di dekat halte Transjogja, kakiku rewel minta berhenti. Kuputuskan untuk duduk di salah satu kursi taman yang kebetulan kosong. Ah, indahnya sore ini. Langit terlihat cantik berbedak jingga dan angin pun ramah merangkul wajahku. Ditambah wangi sate yang berhamburan di udara dari tukang sate pikul yang berjualan yang di sekitar situ. Bahkan suara bising kendaraan yang biasanya kubenci terasa menjadi bagian dari simfoni yang terdiri dari berbagai jenis suara ini.

“Satenya Mas. Murah.” Suara medok tukang sate barusan bahkan terasa merdu di telingaku. Padahal empat tahun aku kuliah di lingkungan dimana jumlah orang yang berbahasa Jawa merupakan mayoritas. Apa hanya aku saja yang baru menyadari?

Hampir semua panca inderaku serasa dimanjakan. Mungkin perlu kucicipi juga beberapa tusuk sate yang dari tadi baunya mengelitik hidung, agar indera pengecapku tidak merasa iri dengan empat kawannya yang lain.

Tuhan, bolehkah kusimpan sore ini supaya bisa kapan saja kurasakan lagi? Tak boleh ya? Ah, ya sudahlah tak apa. Biar kunikmati sepuasnya saja setiap detik yang masih bisa kuresapi ini selagi bisa.

Beberapa jam terlewati, dan matahari kini telah terganti lampu jalan. Semakin terang lampu dan semakin ramai orang lalu lalang melintas, tapi yang kurasakan semakin suasana sepi dan redup. Hatiku serasa kosong. Aih, sepertinya aku memang benar-benar rindu padamu.

Dan tak lama, malam meninggi. Suasana semakin ramai dan kakiku pun sudah mau diajak berkompromi. Kuputuskan kembali berjalan-jalan sambil mencari pengisi perut. Beberapa tusuk sate yang tadi melewati mulut rupanya tidak cukup. Kulewati dan kutatap deretan becak yang tak berhenti menawarkan jasa. Ah, seandainya aku bisa menaiki becak itu bersamamu. Berkeliling kota sambil bercerita tentang mimpi-mimpi kita dan menertawakan noda sambal yang menempel di bajumu. Ah, seandainya…

Kulirik jam tangan di lengan kiriku. Jam baru menunjukkan pukul 18.45, terlalu pagi untuk kembali penginapan. Dan karena besok tidak ada jadwal pertandingan, aku yakin teman-temanku yang lain baru akan kembali ke penginapan larut malam nanti. Daripada nanti malah bengong sendiri di penginapan akhirnya aku pun menghampiri salah satu tukang becak tersebut, “Alun-alun Kidul berapa Pak?”

Yogyakarta dari dalam becak di malam hari sungguh mengagumkan, ditambah angin dingin yang terasa menyenangkan saat menerpa wajah. Musisi jalanan seakan silih berganti pentas di setiap sudut jalan. Deretan kaki lima ramai dengan orang-orang yang bersila sambil bersantap lahap.  Mengingatkan pada lagu Yogyakarta-nya Kla Project. Ekspresi manusia, tutur kata, deretan lampu jalan, semua seakan berpadu dalam satu harmonisasi. Jika biasanya orang menyebut Bandung sebagai kota seni, untuk sekarang aku memilih Yogya.

Sesampainya di Alun-alun Kidul, lapangan dimana berdiri dua pohon beringin besar yang biasa disebut Beringin Kembar ini rupanya sudah lumayan ramai. Ada satu kepercayaan mengenai Beringin Kembar ini. Katanya, jika kita kita berjalan dari salah satu sisi lapangan alun-alun sambil menutup mata ke arah dua pohon tersebut, dan berhasil melewati sela antara dua pohon tersebut, keinginan kita akan terkabul.

Kepercayaan yang agak mistis ini sangat populer, sehingga banyak orang yang berusaha melakukannya. Bahkan kepercayaan ini dimanfaatkan beberapa orang untuk menyewakan penutup mata kepada orang-orang yang ingin melakukan ‘ritual’ tersebut, yang memang kebanyakan merupakan para turis lokal yang mudah percaya hal semacam ini. Bangsa kita mungkin memang sudah terlalu lelah menggantungkan harapan kepada para pembesar yang tidak bisa diharapkan. Sehingga mereka mencari pelarian dari kekecewaan mereka tersebut, meski itu kepada hal yang tidak masuk akal.

Sebenarnya aku sendiri tergolong orang yang merasa bahkan tradisi tradisional itu sesuatu yang wajib dilestarikan. Karena bagaimanapun tradisi-tradisi tradisional itu dibangun berdasarkan nilai budi pekerti. Tapi untuk beberapa tradisi yang mistis dan sedikit mengada-ada seperti ini, jujur sampai punah pun aku tidak mau peduli.

Walau begitu, rasa penasaran menggelitik. Syirik? Iya aku tahu. Tapi mumpung aku disini, apa salahnya mencoba. Anggap saja sebagai atraksi turis biasa. Kalaupun sambil berharap sesuatu, cukup kutujukan kepada sosok yang telah menciptakanku saja.

Aku pun mengeluarkan handuk kecil di tas untuk kugunakan menutupi mata. Aku lalu mengambil posisi sambil mengukur posisi dua beringin tersebut dari tempat berdiri. Kututup mata dengan handuk barusan. Nah, sekarang apa harapanku? Bayangan sosok dan kejadian berputar meminta untuk dipilih. Pikiranku terhenti di salah satu bayangan…

Jadi, apa kabarmu sekarang, sisa di botol sambalku?

Nyari Apa? -Sebuah Postingan Gundah

Posted in thoughts by Ichsan on June 26, 2011

Hai, Halo! Apa kabar? Cukup lama saya tinggal ini blog. Maklumlah, sibuk. Sibuk nyari kesibukan. Hehe. Memang banyak rupanya yang harus dilakukan dan dilalui jobseeker. Tiap hari buka situs lowongan pekerjaan dengan harapan ada lowongan yang cocok dan sesuai kualifikasi (ya, memang sulit kalau lulus dengan prestasi nanggung. Yang masih mahasiswa harus rajin masuk kuliah ya!), bikin resume dan kirim email lamaran kerja, main game, dll. Sibuk kan? Dan mumpung sekarang sedang ‘senggang’, akhirnya memutuskan untuk sedikit mengobati rasa kangen nge-blog.

Anyway, sebenernya ada alasan lain dari kevakuman ini. Entah ini alasan yang dibuat-buat atau tidak; Pencarian Jati Diri. Jeng jeng jeng… Nampak melankolis kayanya. Tapi nggak lho, karena bagaimana pun seorang blogger juga manusia (lu pikir?).

Kalau ada yang baca blog saya dari awal sampai akhir (semoga rezekinya dimudahkan :D ), mungkin nyadar dengan isi blog ini yang cukup berantakan dan nggak jelas. Kalau ini makanan mungkin udah kaya rujak yang dibikin anak SD, semua dimasukin tapi komposisinya nggak ada. OK, perandaian yang terlalu ngasal, adik saya yang SD juga bisa bikin rujak yang lumayan enak. Walau emang seringnya rujak mangga aja. Dan… Kok malah ngomongin rujak? OK, balik lagi ke ‘pencarian jati diri’, salah satunya alasan kenapa isi blog ini berantakan karena memang saya masih mencari ‘bentuk’ dalam menulis/nge-blog. Jadi mungkin isinya akan terus berubah.

Selain isi, juga bahasa dan ejaan. Di awal, bahasa yang digunakan mungkin… Mmm.. saya juga lupa. Baca sendiri aja lah ya :p. Yang pasti saya merasakan sendiri perubahan-perubahan yang saya alami, dan tahu kenapa. Alasan saya sederhana, yaitu saya berusaha belajar menulis dengan bahasa yang baik dan benar, tentunya dengan isi dan alur yang baik pula. Nah, sementara isi dan alur belum bisa saya kuasai, setidaknya saya coba belajar dari mulai bahasa.

Dan tentunya saya juga nggak mungkin menerapkan tata bahasa dan kosa kata sesuai ejaan yang disempurnakan secara 100%, karena blog ini juga bukan official blog atau sejenisnya, tetap menyesuaikan kondisi. Yang jelas saya berusaha menghindari penggunaan kata-kata yang biasanya digunakan di sms dan twitter karena keterbatasan karakter dan… ehm, pulsa.

Karena cara kita berbahasa apa yang kita tulis/ucapkan dapat mencerminkan karakter dan sikap kita secara sosial. meski memang teori ini nggak benar-benar valid, tapi kita mungkin dapat melihat langsung contohnya. Contoh gampangnya di Twitter. Jangan melihat isinya, karena banyak juga orang yang saat di media sosial justru berbeda dengan karakternya sehari-hari, entah karena kepribadian ganda atau sekadar menyalurkan apa yang nggak bisa ia salurkan di kehidupan nyata. Terlepas dari penggunaan kosa kata, coba lihat cara dia menyusun kata-kata (untuk twit yang cukup panjang, kalau terlalu pendek sulit juga untuk dinilai) untuk menyampaikan maksudnya, entah itu eksplisit atau emplisit. Biasanya kita bisa langsung mempunyai gambaran karakter orang tersebut seperti apa.

Tapi tentu saja, itu tidak bisa dijadikan patokan, karena memang terlalu dangkal untuk menilai seseorang dari twit yang bersangkutan. Tapi dari situ ada sesuatu yang bisa kita simpulkan. cara seseorang berbahasa dapat menimbulkan kesan terhadap orang lain, bahkan membuat orang lain langsung ‘men-judge’ seperti apa karakter orang tersebut. OK, sedikit melebar rupanya yang saya mau tulis semula. He he… Tapi ngerti kan ya? Ngerti lah ya :p

OK, biar rada nyambung sama judul, inti dari apa yang ditulis diatas adalah tentang perubahan. Perubahan, pencarian jati diri, dan lain sebagainya, kapan berhenti? Nggak akan pernah berhenti, sampai kita mati. Manusia terus berkembang, karena kita akan terus mencari ‘bentuk’. Bahkan saat di usia yang cukup bisa dibilang tua manusia akan terus mencari sesuatu, makanya ada yang disebut midlife crysis.

Dan semua kegundahan, dilema, dan keluh kesah kita sebenernya hanya pertanyaan, yang meski terjawab akan terus kembali, yaitu, “Nyari apa?”

Ubuntu & Mint (1): Introduction

Posted in Uncategorized by Ichsan on January 11, 2011

Linux, di mata sebagian besar pengguna komputer masih dianggap sesuatu yang rumit dan tidak menyenangkan. Sebagian besar masih sangat setia terhadap Windows (termasuk saya yang memutuskan menggunakan dua OS–Windows 7 dan Linux Mint, dalam satu komputer, karena masalah kompabilitas dengan software-software yang sering saya pakai). Anggapan ini semakin menguat jika melihat pengguna komputer yang tergolong masih baru atau awal. Apalagi karena mereka sejak awal sudah disodori dengan aggapan-anggapan dan mitos tentang Windows vs Linux tersebut.

Beberapa alasan enggan pindah ke OS dari keluarga Linux yang umumnya dikemukan orang adalah karena takut aplikasi yang mereka butuhkan dan sering mereka pakai di Windows tidak ada di Linux. Padahal sebenarnya, untuk penggunaan sehari-hari, seperti mengetik, browsing, download, mendengarkan musik, menonton film, dan penggunaan umum lainnya, Linux sudah cukup memadai. Beda halnya jika anda seorang gamer hard-core atau memang sering berurusan dengan software-software high-end. Windows mungkin lebih cocok untuk Anda.

Salah satu jenis distro Linux yang tergolong user-friendly dan cocok untuk pemakaian tersebut adalah Ubuntu. Ubuntu saat ini sudah mencapai versi 10.10, atau dikenal juga dengan nama rilis Maverick Meerkat. Ubuntu merupakan distro Linux dengan pemakaian terbesar dibandingkan distro lainnya. Ubuntu cocok untuk pemakaian sehari-hari karena banyak sofware yang tersedia untuk pemakaian sehari-hari secara umum. Selain itu, Ubuntu tergolong ringan dan mempunyai spesikasi kebutuhan hardware yang lebih ringan dibandingkan OS keluaran Microsoft, Windows.

Saat baru selesai menginstall, sama seperti dengan saat menginstall Windows, yang perlu dilakukan adalah menginstall aplikasi-aplikasi dan codec multimedia yang dibutuhkan. Sebagai perbandingan untuk anda yang akrab dengan Windows, berikut ini list aplikasi yang bisa dijadikan alternatif aplikasi-aplikasi yang biasa digunakan di Windows.

Kelebihan dari Linux adalah kita dapat langsung memilih dan menginstall aplikasi melalui Software Center. Di Software Center ini sudah terdapat list aplikasi-aplikasi yang dikategorikan bedasarkan jenisnya, seperti VLC di bagian multimedia, Google Chromium di bagian internet, dan lain sebagainya. Jika terhubung dengan internet, tinggal pilih aplikasi yang akan diinstall. Sangat mudah. Selain itu, kita bisa menyimpan link source repository dari setiap aplikasi. Jadi jika ada update untuk aplikasi tertentu kita akan langsung tahu melalui Update Manager dan bisa langsung meng-update selama terhubung dengan internet.

Jika masih belum bisa benar-benar lepas dari beberapa aplikasi untuk Windows, kita juga bisa menginstall Wine. Wine ini merupakan emulator untuk software yang diperuntukan untuk Windows. Sehingga kita tetap bisa menggunakan Adobe Photoshop atau bermain DotA di Ubuntu kita. Kabar bagusnya ialah setiap saat Wine, seperti halnya juga aplikasi lainnya, terus dikembangkan sehingga jumlah aplikasi Windows yang bisa dijalankan di Wine semakin banyak dan semakin persis sama seperti saat dijalankan di Windows.

Jika merasa Ubuntu masih sedikit membingungkan, Linux Mint bisa menjadi alternatif. Mint sendiri sebenarnya merupakan modifikasi dari Ubuntu. Kelebihan Mint ini adalah user interface yang lebih menyerupai Windows (jika anda terlalu terbiasa dengan Windows). Kelebihan lainnya adalah jika menginstall Mint kita tidak usah direpotkan dengan menginstall codec yang umum seperti mp3 dan aplikasi-aplikasi umum seperti office dan aplikasi multimedia. Karena saat baru selesai menginstall OS, aplikasi seperti OpenOffice, VLC,  Firefox, dan lainnya sudah ikut terinstall. Jadi tinggal pakai. Jika ingin menginstall aplikasi lainnya, tinggal cari dan pilih dengan Software Center seperti di Ubuntu. Sangat mudah bukan? Yang anda butuhkan hanya koneksi internet.

Kekurangan yang paling terasa dan dirasa menyebalkan selama menggunakan Ubuntu atau Linux Mint hanya satu, yaitu penggunaan baterai notebook yang sedikit lebih cepat habis dibandingkan saat menggunakan Windows. Tapi perbandingannya sendiri tidak terlalu jauh.

Tertarik pindah ke Linux?

Tagged with: , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.