Nyari Apa? -Sebuah Postingan Gundah
Hai, Halo! Apa kabar? Cukup lama saya tinggal ini blog. Maklumlah, sibuk. Sibuk nyari kesibukan. Hehe. Memang banyak rupanya yang harus dilakukan dan dilalui jobseeker. Tiap hari buka situs lowongan pekerjaan dengan harapan ada lowongan yang cocok dan sesuai kualifikasi (ya, memang sulit kalau lulus dengan prestasi nanggung. Yang masih mahasiswa harus rajin masuk kuliah ya!), bikin resume dan kirim email lamaran kerja, main game, dll. Sibuk kan? Dan mumpung sekarang sedang ‘senggang’, akhirnya memutuskan untuk sedikit mengobati rasa kangen nge-blog.
Anyway, sebenernya ada alasan lain dari kevakuman ini. Entah ini alasan yang dibuat-buat atau tidak; Pencarian Jati Diri. Jeng jeng jeng… Nampak melankolis kayanya. Tapi nggak lho, karena bagaimana pun seorang blogger juga manusia (lu pikir?).
Kalau ada yang baca blog saya dari awal sampai akhir (semoga rezekinya dimudahkan
), mungkin nyadar dengan isi blog ini yang cukup berantakan dan nggak jelas. Kalau ini makanan mungkin udah kaya rujak yang dibikin anak SD, semua dimasukin tapi komposisinya nggak ada. OK, perandaian yang terlalu ngasal, adik saya yang SD juga bisa bikin rujak yang lumayan enak. Walau emang seringnya rujak mangga aja. Dan… Kok malah ngomongin rujak? OK, balik lagi ke ‘pencarian jati diri’, salah satunya alasan kenapa isi blog ini berantakan karena memang saya masih mencari ‘bentuk’ dalam menulis/nge-blog. Jadi mungkin isinya akan terus berubah.
Selain isi, juga bahasa dan ejaan. Di awal, bahasa yang digunakan mungkin… Mmm.. saya juga lupa. Baca sendiri aja lah ya :p. Yang pasti saya merasakan sendiri perubahan-perubahan yang saya alami, dan tahu kenapa. Alasan saya sederhana, yaitu saya berusaha belajar menulis dengan bahasa yang baik dan benar, tentunya dengan isi dan alur yang baik pula. Nah, sementara isi dan alur belum bisa saya kuasai, setidaknya saya coba belajar dari mulai bahasa.
Dan tentunya saya juga nggak mungkin menerapkan tata bahasa dan kosa kata sesuai ejaan yang disempurnakan secara 100%, karena blog ini juga bukan official blog atau sejenisnya, tetap menyesuaikan kondisi. Yang jelas saya berusaha menghindari penggunaan kata-kata yang biasanya digunakan di sms dan twitter karena keterbatasan karakter dan… ehm, pulsa.
Karena cara kita berbahasa apa yang kita tulis/ucapkan dapat mencerminkan karakter dan sikap kita secara sosial. meski memang teori ini nggak benar-benar valid, tapi kita mungkin dapat melihat langsung contohnya. Contoh gampangnya di Twitter. Jangan melihat isinya, karena banyak juga orang yang saat di media sosial justru berbeda dengan karakternya sehari-hari, entah karena kepribadian ganda atau sekadar menyalurkan apa yang nggak bisa ia salurkan di kehidupan nyata. Terlepas dari penggunaan kosa kata, coba lihat cara dia menyusun kata-kata (untuk twit yang cukup panjang, kalau terlalu pendek sulit juga untuk dinilai) untuk menyampaikan maksudnya, entah itu eksplisit atau emplisit. Biasanya kita bisa langsung mempunyai gambaran karakter orang tersebut seperti apa.
Tapi tentu saja, itu tidak bisa dijadikan patokan, karena memang terlalu dangkal untuk menilai seseorang dari twit yang bersangkutan. Tapi dari situ ada sesuatu yang bisa kita simpulkan. cara seseorang berbahasa dapat menimbulkan kesan terhadap orang lain, bahkan membuat orang lain langsung ‘men-judge’ seperti apa karakter orang tersebut. OK, sedikit melebar rupanya yang saya mau tulis semula. He he… Tapi ngerti kan ya? Ngerti lah ya :p
OK, biar rada nyambung sama judul, inti dari apa yang ditulis diatas adalah tentang perubahan. Perubahan, pencarian jati diri, dan lain sebagainya, kapan berhenti? Nggak akan pernah berhenti, sampai kita mati. Manusia terus berkembang, karena kita akan terus mencari ‘bentuk’. Bahkan saat di usia yang cukup bisa dibilang tua manusia akan terus mencari sesuatu, makanya ada yang disebut midlife crysis.
Dan semua kegundahan, dilema, dan keluh kesah kita sebenernya hanya pertanyaan, yang meski terjawab akan terus kembali, yaitu, “Nyari apa?”




leave a comment