Sisa di Dasar Botol
(Cerita dibawah sebagian besar fiksi)
Kelaparan, kuputuskan untuk keluar mencari pengganjal perut di sekitar penginapan. “Lang, cari makan yuk keluar!”. Aku mengajak Gilang, teman satu kamarku.
“Males ah, baru juga beres tanding. Mending istirahat dulu, nanti malem aja baru kita beredar.”
“Depan doang sih, yang deket.”
“Males ah. Sendiri gih!”
Ah, ya sudahlah. Kuputuskan mencari makan sendiri. Keluar penginapan, tak jauh kulihat ada deretan tenda. Kuputuskan masuk ke tenda yang menjual mie bakso lalu memesan satu porsi.
Susah payah kuhentakkan botol sambal yang kupegang, berharap sambal yang ada di dasarnya mau berpindah ke mangkok berisi mie bakso di depanku. Ah, susah sekali. Kenapa para produsen sambal dan kecap ini tak pernah terfikir dengan endapan sambal atau kecap yang sulit dikeluarkan di dasar botol saat mau habis.
Padahal bayangkan saja, jika ada satu juta botol yang dijual setiap bulan, berapa liter sambal yang terbuang sia-sia! Padahal Tuhan bilang mubazir itu temannya setan. Dan aku tak mau berteman dengan setan, meski karena imanku yang lemah mereka jadi terlalu pintar dan sering berhasil memperdayaiku.
Akan berbeda seandainya para produsen sambal itu mau memikirkan setidaknya desain botol yang baru supaya tidak tersisa sambal yang menurutku cukup banyak tersebut. Aku menyerah, “Pak, boleh minta sambal lagi?”
Saat kembali ke penginapan, suasana nampak sepi. Sepertinya orang-orang pergi jalan-jalan tanpa mengajakku. Kurang ajar dasar.
Akhirnya sore itu kuputuskan untuk berjalan-jalan di Malioboro sendirian. Sore itu suasana cukup ramai. Namun itu entah kenapa justru membuatku merasa makin kesepian. Aku menyusuri jalan ke arah Selatan, sambil menutupi gundah yang tak berhenti merembes keluar. “Mas, mau dilukis Mas, buat kenangan-kenangan.” Panggil seorang Bapak yang lapaknya kulewati. Rupanya pelukis jalanan. Kunaikan tanganku untuk menolak. Namun tak sengaja mataku terhenti di salah satu gambar sketsa yang dipajang, yang nampak kukenal raut mukanya.
Kulihat foto kecil yg menempel di gambar tersebut. Oalah, ternyata itu gambar salah satu temanku saat pelatda bisbol beberapa tahun lalu, Anggi, bersama mantan pacarnya.Mereka pasti kesini bersama beberapa bulan lalu saat mereka masih pacaran. Ya ampun, dunia ini sempit. Aku tertawa sendiri sambil berujar dalam hati. Aku tinggalkan pelukis tersebut dan teruskan perjalanan tanpa arah ini.
Tapi kalau dunia ini sempit, tapi kenapa begitu sulit untuk bisa sekadar melihatmu kembali. Ah, terlalu banyak rahasia yang tidak dimengerti olehku yang bodoh ini. Kadang aku berharap Tuhan mau sedikit saja menambah volume otakku yang sering mampat ini.
Perjalananku terhenti di dekat halte Transjogja, kakiku rewel minta berhenti. Kuputuskan untuk duduk di salah satu kursi taman yang kebetulan kosong. Ah, indahnya sore ini. Langit terlihat cantik berbedak jingga dan angin pun ramah merangkul wajahku. Ditambah wangi sate yang berhamburan di udara dari tukang sate pikul yang berjualan yang di sekitar situ. Bahkan suara bising kendaraan yang biasanya kubenci terasa menjadi bagian dari simfoni yang terdiri dari berbagai jenis suara ini.
“Satenya Mas. Murah.” Suara medok tukang sate barusan bahkan terasa merdu di telingaku. Padahal empat tahun aku kuliah di lingkungan dimana jumlah orang yang berbahasa Jawa merupakan mayoritas. Apa hanya aku saja yang baru menyadari?
Hampir semua panca inderaku serasa dimanjakan. Mungkin perlu kucicipi juga beberapa tusuk sate yang dari tadi baunya mengelitik hidung, agar indera pengecapku tidak merasa iri dengan empat kawannya yang lain.
Tuhan, bolehkah kusimpan sore ini supaya bisa kapan saja kurasakan lagi? Tak boleh ya? Ah, ya sudahlah tak apa. Biar kunikmati sepuasnya saja setiap detik yang masih bisa kuresapi ini selagi bisa.
Beberapa jam terlewati, dan matahari kini telah terganti lampu jalan. Semakin terang lampu dan semakin ramai orang lalu lalang melintas, tapi yang kurasakan semakin suasana sepi dan redup. Hatiku serasa kosong. Aih, sepertinya aku memang benar-benar rindu padamu.
Dan tak lama, malam meninggi. Suasana semakin ramai dan kakiku pun sudah mau diajak berkompromi. Kuputuskan kembali berjalan-jalan sambil mencari pengisi perut. Beberapa tusuk sate yang tadi melewati mulut rupanya tidak cukup. Kulewati dan kutatap deretan becak yang tak berhenti menawarkan jasa. Ah, seandainya aku bisa menaiki becak itu bersamamu. Berkeliling kota sambil bercerita tentang mimpi-mimpi kita dan menertawakan noda sambal yang menempel di bajumu. Ah, seandainya…
Kulirik jam tangan di lengan kiriku. Jam baru menunjukkan pukul 18.45, terlalu pagi untuk kembali penginapan. Dan karena besok tidak ada jadwal pertandingan, aku yakin teman-temanku yang lain baru akan kembali ke penginapan larut malam nanti. Daripada nanti malah bengong sendiri di penginapan akhirnya aku pun menghampiri salah satu tukang becak tersebut, “Alun-alun Kidul berapa Pak?”
Yogyakarta dari dalam becak di malam hari sungguh mengagumkan, ditambah angin dingin yang terasa menyenangkan saat menerpa wajah. Musisi jalanan seakan silih berganti pentas di setiap sudut jalan. Deretan kaki lima ramai dengan orang-orang yang bersila sambil bersantap lahap. Mengingatkan pada lagu Yogyakarta-nya Kla Project. Ekspresi manusia, tutur kata, deretan lampu jalan, semua seakan berpadu dalam satu harmonisasi. Jika biasanya orang menyebut Bandung sebagai kota seni, untuk sekarang aku memilih Yogya.
Sesampainya di Alun-alun Kidul, lapangan dimana berdiri dua pohon beringin besar yang biasa disebut Beringin Kembar ini rupanya sudah lumayan ramai. Ada satu kepercayaan mengenai Beringin Kembar ini. Katanya, jika kita kita berjalan dari salah satu sisi lapangan alun-alun sambil menutup mata ke arah dua pohon tersebut, dan berhasil melewati sela antara dua pohon tersebut, keinginan kita akan terkabul.
Kepercayaan yang agak mistis ini sangat populer, sehingga banyak orang yang berusaha melakukannya. Bahkan kepercayaan ini dimanfaatkan beberapa orang untuk menyewakan penutup mata kepada orang-orang yang ingin melakukan ‘ritual’ tersebut, yang memang kebanyakan merupakan para turis lokal yang mudah percaya hal semacam ini. Bangsa kita mungkin memang sudah terlalu lelah menggantungkan harapan kepada para pembesar yang tidak bisa diharapkan. Sehingga mereka mencari pelarian dari kekecewaan mereka tersebut, meski itu kepada hal yang tidak masuk akal.
Sebenarnya aku sendiri tergolong orang yang merasa bahkan tradisi tradisional itu sesuatu yang wajib dilestarikan. Karena bagaimanapun tradisi-tradisi tradisional itu dibangun berdasarkan nilai budi pekerti. Tapi untuk beberapa tradisi yang mistis dan sedikit mengada-ada seperti ini, jujur sampai punah pun aku tidak mau peduli.
Walau begitu, rasa penasaran menggelitik. Syirik? Iya aku tahu. Tapi mumpung aku disini, apa salahnya mencoba. Anggap saja sebagai atraksi turis biasa. Kalaupun sambil berharap sesuatu, cukup kutujukan kepada sosok yang telah menciptakanku saja.
Aku pun mengeluarkan handuk kecil di tas untuk kugunakan menutupi mata. Aku lalu mengambil posisi sambil mengukur posisi dua beringin tersebut dari tempat berdiri. Kututup mata dengan handuk barusan. Nah, sekarang apa harapanku? Bayangan sosok dan kejadian berputar meminta untuk dipilih. Pikiranku terhenti di salah satu bayangan…
Jadi, apa kabarmu sekarang, sisa di botol sambalku?




masalah sisa sambal di dasar botol udah terpecahkan lewat TA gw ce..
hahaha
haha. beberapa tahun yang lalu kan belum ada itu TA lu tong.
percaya kakaaaaaak..
love the way you depict each of the situation he walk through